Pallawa

Tongkonan Pallawa adalah salah satu tongkonan yang berada di antara
pohon-pohon bambu di puncak bukit. Tongkonan tersebut didekorasi dengan
sejumlah tanduk kerbau yang ditancapkan di bagian depan rumah adat. Terletak
sekitar 12 Km ke arah utara dari Rantepao.
Londa
Londa adalah bebatuan curam di sisi makam khas Tana Toraja. Salah
satunya terletak di tempat yang tinggi dari bukit dengan gua yang dalam dimana
peti-peti mayat diatur sesuai dengan garis keluarga, di satu sisi bukit lainya
dibiarkan terbuka menghadap pemandangan hamparan hijau. Londa terletak de Desa
Sendan Uai, Kecamatan Sanggalai, sekitar 5 Km ke arah selatan dari Rantepao,
Tana Toraja.
Ke'te Kesu
Ke’te Kesu berarti pusat kegiatan, dimana terdapatnya perkampungan,
tempat kerajinan ukiran, dan kuburan. Pusat kegiatannya adalah berupa deretan
rumah adat yang disebut Tongkonan, yang merupakan obyek yang mempesona di desa ini.
Selain Tongkonan, disini juga terdapat lumbung padi dan bangunan megalith di
sekitarnya. Sekitar 100 meter di belakang perkampungan ini terdapat situs
pekuburan tebing dengan kuburan bergantung dan tau-tau dalam bangunan batu yang
diberi pagar. Tau-tau ini memperlihatkan penampilan pemiliknya sehari-hari.
Perkampungan ini juga dikenal dengan keahlian seni ukir yang dimiliki oleh
penduduknya dan sekaligus sebagai tempat yang bagus untuk berbelanja souvenir.
Terletak sekitar 4 Km dari tenggara Rantepao.
Batu Tumonga
Di kawasan ini anda dapat menemukan sekitar 56 batu menhir dalam satu
lingkaran dengan 4 pohon di bagian tengah. Kebanyakan batu menhir memiliki
ketinggian sekitar 2 – 3 meter. Dari tempat ini anda dapat melihat keindahan
Rantepao dan lembah sekitarnya. Terletak di daerah Sesean dengan ketinggai 1300
Meter dari permukaan laut.
Lemo
Lemo merupakan sebuah kuburan yang dibuat di bukit batu. Bukit ini
dinamakan Lemo karena bentuknya bulat menyerupai buah jeruk (limau). Di bukit
ini terdapat sekitar 75 lubang kuburan dan tiap lubangnya merupakan kuburan
satu keluarga dengan ukuran 3 X 5 M. Untuk membuat lubang ini diperlukan waktu
6 bulan hingga 1 tahun dengan biaya sekitar Rp. 30 juta. Tempat ini sering
disebut sebagai rumah para arwah. Di pemakaman Lemo anda dapat melihat mayat
yang disimpan di udara terbuka, di tengah bebatuan yang curam. Kompleks
pemakaman ini merupakan perpaduan antara kematian, seni dan ritual. Pada
waktu-waktu tertentu pakaian dari mayat-mayat akan diganti dengan melalui
upacara Ma Nene. Kuburan Batu Lemo ini terletak di sebelah utara Makale,
Kabupaten Tana Toraja.
Kuburan Bayi Kambira
Di kuburan ini, bayi yang meninggal sebelum giginya tumbuh dikuburkan
di dalam sebuah lubang yang dibuat di pohon Tarra’. Bayi ini dianggap masih
masih suci. Pohon Tarra’ dipilih sebagai tempat penguburan bayi, karena pohon
ini memiliki banyak getah yang dianggap sebagai pengganti air susu ibu. Dengan
menguburkan di pohon ini, orang-orang Toraja menganggap bayi ini seperti
dikembalikan ke rahim ibunya dan mereka berharap pengembalian bayi ini ke rahim
ibunya akan menyelamatkan bayi-bayi yang akan lahir kemudian.
Pohon Tarra' memiliki diameter sekitar 80 - 100 cm dan lubang yang dipakai untuk menguburkan bayi ditutup ijuk dari pohon enau. Pemakaman seperti ini dilakukan oleh orang toraja pengikut ajaran ajaran kepercayaan kepada leluhur. Upacara penguburan ini dilaksanakan secara sederhana dan bayi yang dikuburkan tidak dibungkus dengan kain, sehingga bayi seperti masih berada dirahim ibunya.
Kuburan ini terletak didesa kambira, tidak jauh dari Makale,Tana Toraja.
Arung Jeram Sungai Sa'dan
Sungai Sa’dan memiliki panjang sekitar 182 km dan lebar rata-rata 80
meter serta memiliki anak sungai sebanyak 294. Di sepanjang Sungai ini terdapat
beberapa jeram dengan tingkat kesulitan yang berbeda, seperti jeram Puru’
dengan kategori tingkat kesulitan III; jeram Pembuangan Seba dengan kategori
tingkat kesulitan IV, yaitu permukaan air di pinggir sungai yang lebar dan
tiba-tiba menyempit dengan cepat; jeram Fitri dengan kategori tingkat kesulitan
V, yaitu berupa patahan dan arus sungai yang menabrak batu besar yang dapat
menyebabkan perahu menempel di batu dan terjebak diantaranya. Selain itu,
topografi daerah ini juga sangat menarik dengan keindahan alam dan udara yang
sejuk di sepanjang perjalanan.
Lokasi Sungai Sa’dan ini dimulai dari jembatan gantung di Desa Buah
Kayu kabupaten Tana Toraja dan berakhir di jembatan Pappi Kabupaten Enrekang,
Sulawesi Selatan.
Upacara Adat Rambu Solo
Rambu Solo dalah upacara adat
kematian masyarakat Tana Toraja yang bertujuan untuk menghormati dan
menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh, yaitu kembali
kepada keabadian bersama para leluhur mereka di sebuah tempat peristirahatan.
Upacara ini sering juga disebut upacara penyempurnaan kematian karena orang
yang meninggal baru dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi
upacara ini digenapi. Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya
dianggap sebagai orang “sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan
seperti halnya orang hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi
hidangan makanan dan minuman bahkan selalu diajak berbicara.
Puncak dari upacara Rambu solo
ini dilaksanakan disebuah lapangan khusus. Dalam upacara ini terdapat beberapa
rangkaian ritual, seperti proses pembungkusan jenazah, pembubuhan ornament dari
benang emas dan perak pada peti jenazah, penurunan jenazah ke lumbung untuk
disemayamkan, dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan terakhir.
Selain itu, dalam upacara adat
ini terdapat berbagai atraksi budaya yang dipertontonkan, diantaranya adu
kerbau, kerbau-kerbau yang akan dikorbankan di adu terlebih dahulu sebelum
disembelih, dan adu kaki. Ada juga pementasan beberapa musik dan beberapa
tarian Toraja.
Kerbau yang disembelih dengan
cara menebas leher kerbau hanya dengan sekali tebasan, ini merupakan ciri khas
masyarakat Tana Toraja. Kerbau yang akan disembelih bukan hanya sekedar kerbau
biasa, tetapi kerbau bule “Tedong Bonga” yang harganya berkisar antara 10 – 50
juta per ekornya.
Upacara adat ini biasanya
dilaksanakan di Kampung Bonoran, Desa Ke’te’ Kesu’, Kecamatan Kesu’, Tana
Toraja. ( Sumber : http://www.sulsel.go.id )
(::) Kawasan Wisata Pangopango Di Tana Toraja Mulai Dibuka Untuk Umum (::)
Sindonews.com - Pemerintah
kabupaten (Pemkab) Tana Toraja mulai membuka kawasan wisata alam Pango-pango
kepada masyarakat umum.
"Masyarakat umum sudah bebas
mengunjungi objek wisata alam Pango-pango. Untuk sementara, pengunjung
digratiskan masuk berwisata di Pango-pango," ujar Bupati Tana Toraja,
Theofilus Allorerung di Makale, Jumat (22/3/2013).
Dikatakan Theofilus, Pango-pango
yang terletak di kecamatan Makale Selatan salah satu objek wisata alam baru
yang dikembangkan menjadi objek wisata unggulan di Tana Toraja.
Wisatawan yang berkunjung ke
Pango-pango bisa menikmati keindahan alam dan sejuknya udara pegunungan. Tidak
hanya itu, wisatawan akan dimanjakan dengan rimbunnya hutan pinus yang masih
"perawan" dan hamparan pegunungan yang mengelilingi kawasan wisata
Pangopango.
Dipuncak Pangopango yang berada pada ketinggian 1.643 meter dari
permukaan laut, wisatawan bisa melihat jelas seluruh wajah kota Makale, hingga
kabupaten Toraja Utara.
Bahkan, pemkab Tana Toraja
berencana membangun sebuah menara ketinggian 30 meter di atas puncak agar
pengunjung bisa melihat wajah kota Pare-pare dengan menggunakan teropong.
Ditengah-tengahnya terdapat
sebuah gasebo tempat wisatawan beristirahat melepas lelah sambil menikmati
indahnya panorama alam pegunungan. Akses jalan menuju Pangopango juga sudah
bisa dilalui kendaraan roda empat.
"Sejuknya udara pegunungan
dan keindahan alam yang luar biasa indahnya siap menyambut setiap wisatawan
yang datang berwisata ke Pango-pango," kata Theofilus.
Selain potensi alam, Pangopango
juga menawarkan wisata agro. Tanaman yang tumbuh di sekitarnya seperti
buah-buahan dan sayur mayur menambah daya tarik tempat wisata itu.
Pengunjung bisa melihat
langsung proses pembibitan, penanaman
hingga proses pemetikan. Pangopango sebagai kawasan wisata agro diharapkan bisa
meningkatkan pendapatan masyarakat setempat dan pendapatan daerah.
"Wisatawan juga bisa
langsung membeli buah-buahan dan sayur mayur kepada masyarakat setempat dengan
cara memetik langsung di kebun di kawasan wisata angro Pangopango," kata
Theofilis.
Meski sudah dibuka untuk umum,
Pemkab Tana Toraja masih terus membenahi fasilitas kawasan wisata alam dan
wisata agro Pangopango guna lebih memikat wisatawan domestik dan mancanegara
datang berkunjung ke Pangopango. Saat ini yang dilakukan pemerintah bagaimana
mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya ke kawasan wisata Pangopango.
Semakin banyak wisatawan datang,
Pangopango akan makin terkenal. Setiap orang yang datang akan bercerita
pengalamannya selama berada di Pangopango kepada orang lain. Cerita itu salah
satu media promosi yang diyakini makin membuat orang penasaran untuk datang ke
sana.
"Saya optimistis, Pangopango
akan menjadi objek wisata unggulan di Toraja. Saya juga memprediksi, dalam
beberapa tahun ke depan akan ada event spektakuler dilaksanakan di kawasan
wisata alam dan kawasan wisata agro Pangopango" optimistis Theofilus.
Ketua DPRD Tana Toraja, Welem
Sambolangi menyatakan Pangopango dijadikan kawasan objek wisata baru merupakan
terobosan spektakuler yang dilakukan pemkab Tana Toraja dalam upaya
meningkatkan pariwisata daerah.
"DPRD mendukung setiap upaya
pemerintah dalam memajukan pariwisata daerah. Termasuk mengembangkan potensi
daerah menjadi objek wisata baru," tandas Legislator Partai Golkar itu.
:: Sekian
Itulah info saya mengenai Objek Wisata Di Kabupaten Tana Toraja, buat teman-teman yang belum kesana cobalah untuk berlibur di Toraja. Objek wisata Pangopango baru-baru di buka ches!
SALAM PLUR
Tidak ada komentar:
Posting Komentar